Wednesday, 24 August 2016

0 Menyelam di samudera takdir

Menyelam di samudera takdir






Berilah perhatian sepenuhnya dan terimalah sepenuhnya apapun juga yang muncul dalam pola takdir Anda, karena apalagi yang sesuai bagi kebutuhan Anda? Dengan memberikan perhatian dan penerimaan sepenuhnya terhadap apa yang Anda kerjakan akan membebaskan Anda dari dominasi pikiran, selama ini dengan ketidaksadaran perhatian Anda diserap pikiran dan digunakan pikiran untuk berpikir secara terus menerus. Dari sinilah awal keruwetan dan permasalahan dalam hidup Anda.
Resistensi adalah pikiran itu sendiri, maka penerimaan sepenuhnya terhadap apa yang ada akan segera membebaskan Anda dari dominasi pikiran dan dengan demikian akan menghubungkan Anda dengan Kesejatian. Akibatnya, motivasi ego untuk berbuat sesuatu, ketakutan, keserakahan, pengendalian, mempertahankan atau memberi makan diri yang semu akan berhenti beroperasi. Suatu kecerdasan yang jauh lebih besar dari pikiran sekarang yang mengambil alih, yang dengan demikian suatu kualitas kesadaran akan mengalir dalam perbuatan Anda.
Seringkali penderitaan yang besar akan memaksa Anda untuk menyerah, melepaskan resistensi dan menerima sepenuhnya apa yang ada, dari sinilah muncul mukjizat yang besar. Timbulnya Kesadaran melalui sesuatu yang tampak jahat. Dampak akhir dari drama takdir yang nampak seolah jahat adalah memaksa umat manusia untuk menyadari siapa diri mereka melampaui nama dan bentuk. Namun semua itu tidak menjadi kenyataan sebelum kita menyerah, mengampuni dan dengan demikian kejahatan tersebut telah ditebus yang menjadikannya sebagai apa adanya.
Melalui penyerahan dan pengampunan yang pada dasarnya mengenali kurang pentingnya masa lalu, dan membiarkan kekinian sebagai apa adanya, akan menciptakan ruang hening kesadaran didalam dan mengelilingi diri Anda. Siapapun atau apapun yang memasuki medan keheningan itu akan terkena pengaruhnya, adakalanya secara langsung dan ada kalanya di tingkat yang lebih dalam dengan perubahan nyata yang baru tampak kemudian.

0 Menyelam di samudera takdir

Menyelam di samudera takdir






Berilah perhatian sepenuhnya dan terimalah sepenuhnya apapun juga yang muncul dalam pola takdir Anda, karena apalagi yang sesuai bagi kebutuhan Anda? Dengan memberikan perhatian dan penerimaan sepenuhnya terhadap apa yang Anda kerjakan akan membebaskan Anda dari dominasi pikiran, selama ini dengan ketidaksadaran perhatian Anda diserap pikiran dan digunakan pikiran untuk berpikir secara terus menerus. Dari sinilah awal keruwetan dan permasalahan dalam hidup Anda.
Resistensi adalah pikiran itu sendiri, maka penerimaan sepenuhnya terhadap apa yang ada akan segera membebaskan Anda dari dominasi pikiran dan dengan demikian akan menghubungkan Anda dengan Kesejatian. Akibatnya, motivasi ego untuk berbuat sesuatu, ketakutan, keserakahan, pengendalian, mempertahankan atau memberi makan diri yang semu akan berhenti beroperasi. Suatu kecerdasan yang jauh lebih besar dari pikiran sekarang yang mengambil alih, yang dengan demikian suatu kualitas kesadaran akan mengalir dalam perbuatan Anda.
Seringkali penderitaan yang besar akan memaksa Anda untuk menyerah, melepaskan resistensi dan menerima sepenuhnya apa yang ada, dari sinilah muncul mukjizat yang besar. Timbulnya Kesadaran melalui sesuatu yang tampak jahat. Dampak akhir dari drama takdir yang nampak seolah jahat adalah memaksa umat manusia untuk menyadari siapa diri mereka melampaui nama dan bentuk. Namun semua itu tidak menjadi kenyataan sebelum kita menyerah, mengampuni dan dengan demikian kejahatan tersebut telah ditebus yang menjadikannya sebagai apa adanya.
Melalui penyerahan dan pengampunan yang pada dasarnya mengenali kurang pentingnya masa lalu, dan membiarkan kekinian sebagai apa adanya, akan menciptakan ruang hening kesadaran didalam dan mengelilingi diri Anda. Siapapun atau apapun yang memasuki medan keheningan itu akan terkena pengaruhnya, adakalanya secara langsung dan ada kalanya di tingkat yang lebih dalam dengan perubahan nyata yang baru tampak kemudian.

Wednesday, 13 July 2016

0 Pasrah

Pasrah


Apapun yg tidak enak Anda lakukan, setidaknya Anda dpt menerimanya dg ikhlas sbg sesuatu yg harus Anda lakukan. Secara eksplisit Keikhlasan berarti : Untuk sekarang inilah apa yg diinginkan situasi ini, saat ini, untuk saya lakukan, sehingga saya bersedia melakukannya. Secara implisit menyiratkan kita harus menerima dulu dlm diri kita apa yg tjd, dan keindahan adalah aspek lain setelahnya.

Melakukan tindakan dg pasrah berarti Anda merasa tenang saat melakukan. Ketenangan itu adalah 'Kesadaran', pada permukaannya tindakan yg pasrah spt pasif, tetapi sesungguhnya aktif dan kreatif krn tindakan tsb adalah tindakan berserah diri, kita mjd menyatu dengan situasi dan situasi menjadi diri kita sendiri yg tentunya didukung sepenuhnya oleh kecerdasan universal. Setelahnya Anda akan menikmati tindakan Anda yg kemudian disusul dg keadaan antusias dlm pelaksanaannya.


Tuesday, 12 July 2016

0 Sejarah Penulisan, Pengumpulan, dan Penyalinan al-Quran

 Sejarah Penulisan, Pengumpulan, dan Penyalinan al-Quran


Tak henti-hentinya kaum liberal berusaha menghambat kembalinya kaum muslimin menerapkan Syariat Islam. Salah satunya adalah dengan membuat kaum muslimin ragu-ragu akan keotentikan Mushhaf al-Qur`an sebagai wahyu Allah. Jika kaum muslimin telah ragu terhadap orisinalitas al-Qur`an sebagai wahyu Allah, maka syariat Islam semakin bisa dihambat penerapannya.

Manusia-manusia jahat itu banyak memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat tentang sejarah penulisan, pengumpulan dan penyalinan al-Qur`an. Oleh karena itu, sangat penting penyampaian Sejarah Penulisan, Pengumpulan, dan Penyalinan al-Qur`an.

PENULISAN AL-QUR`AN

Ketika diturunkan satu atau beberapa ayat, Rasul saw langsung menyuruh para sahabat untuk menghafalkannya dan menuliskannya di hadapan beliau. Rasulullah mendiktekannya kepada para penulis wahyu. Para penulis wahyu menuliskannya ke dalam lembaran-lembaran yang terbuat dari kulit, daun, kaghid, tulang yang pipih, pelepah kurma, dan batu-batu tipis.

Mengenai lembaran-lembaran ini Allah SWT berfirman:

Rasuulun minallaaHi yatluu shuhufan muthaHHarah

Artinya:

(yaitu) seorang utusan Allah (yakni Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (al-Qur`an) (QS. Al-Bayyinah [98]: 2)

Rasulullah saw mengizinkan kaum muslimin untuk menuliskan al-Qur`an berdasarkan apa yang beliau diktekan kepada para penulis wahyu. Rasulullah saw bersabda:

Laa taktubuu ‘annii, wa man kataba ‘annii ghairal qur`aani falyamhuHu

Artinya:

Janganlah kalian menulis dari aku. Barangsiapa yang telah menulis dari aku selain al-Qur`an hendaknya ia menghapusnya. (HR. Muslim)

Rasulullah saw tidak khawatir dengan hilangnya ayat-ayat al-Qur`an karena Allah telah menjamin untuk memeliharanya berdasarkan nash yang jelas:

Innaa nahnu nazzalnadz dzikra wa innaa laHu lahaafizhuun

Artinya:

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr [15]:9)

Rasulullah saw gembira dan ridha dengan al-Qur`an sebagai mukjizat terbesarnya yang dapat digunakan sebagai hujjah terhadap orang-orang Arab maupun orang-orang di seluruh dunia

Ketika Nabi saw wafat, al-Quran secara keseluruhan sudah tertulis pada lembaran-lembaran, tulang-tulang, pelepah kurma, dan batu-batu tipis, dan di dalam hafalan para sahabat ra.

* * *

PENGUMPULAN AL-QUR`AN

Di masa pemerintahan Khalifatur Rasul Abu Bakar ash-Shiddiq ra, terjadi perang Yamamah yang mengakibatkan  banyak sekali para qurra’/ para huffazh (penghafal al-Qur`an) terbunuh. Akibat peristiwa tersebut, Umar bin Khaththab merasa khawatir akan hilangnya sebagian besar ayat-ayat al-Qur`an akibat wafatnya para huffazh. Maka beliau berpikir tentang pengumpulan al-Qur`an yang masih ada di lembaran-lembaran.

Zaid bin Tsabit ra berkata:

Abu Bakar telah mengirim berita kepadaku tentang korban Perang Ahlul Yamamah. Saat itu Umar bin Khaththab berapa di sisinya.

Abu Bakar ra berkata, bahwa Umar telah datang  kepadanya lalu ia berkata: “Sesungguhnya peperangan sengit terjadi di hari Yamamah dan menimpa para qurra’ (para huffazh). Dan aku merasa khawatir dengan sengitnya peperangan terhadap para qurra (sehingga mereka banyak yang terbunuh) di negeri itu. Dengan demikian akan hilanglah sebagian besar al-Qur`an.”

Abu Bakar berkata kepada Umar: “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasul saw?”

Umar menjawab: “Demi Allah ini adalah sesuatu yang baik.”

Umar selalu mengulang-ulang kepada Abu Bakar hingga Allah memberikan kelapangan pada dada Abu Bakar tentang perkara itu. Lalu Abu Bakar berpendapat seperti apa yang dipandang oleh Umar.

Zaid bin Tsabit melanjutkan kisahnya. Abu Bakar telah mengatakan kepadaku, “Engkau laki-laki yang masih muda dan cerdas. Kami sekali-kali tidak pernah memberikan tuduhan atas dirimu, dan engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah saw sehingga engkau selalu mengikuti al-Qur`an, maka kumpulkanlah ia.”

Demi Allah seandainya kalian membebaniku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, maka sungguh hal itu tidaklah lebih berat dari apa yang diperintahkan kepadaku mengenai pengumpulan al-Qur`an.

Aku bertanya: “Bagaimana kalian melakukan perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw?”

Umar menjawab bahwa ini adalah sesuatu yang baik. Umar selalu mengulang-ulang perkataaannya sampai Allah memberikan kelapangan pada dadaku seperti yang telah diberikanNya kepada Umar dan Abu Bakar ra.

Maka aku mulai menyusun al-Qur`an dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, tulang-tulang, dari batu-batu tipis, serta dari hafalan para sahabat, hingga aku dapatkan akhir surat at-Taubah pada diri Khuzaimah al-Anshari yang tidak aku temukan dari yang lainnya, yaitu ayat:

Laqad jaaa`akum rasuulun min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil mu`miniina ra`uufur rahiim

Artinya:

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olenya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Taubah [9]: 128)

Pengumpulan al-Qur`an yang dilakukan Zaid bin Tsabit ini tidak berdasarkan hafalan para huffazh saja, melainkan dikumpulkan terlebih dahulu apa yang tertulis di hadapan Rasulullah saw. Lembaran-lembaran al-Qur`an tersebut tidak diterima, kecuali setelah disaksikan dan dipaparkan di depan dua orang saksi yang menyaksikan bahwa lembaran ini merupakan lembaran yang ditulis di hadapan Rasulullah saw. Tidak selembar pun diambil kecuali memenuhi dua syarat: 1) Harus diperoleh secara tertulis dari salah seorang sahabat. 2) Harus dihafal oleh salah seorang dari kalangan sahabat.

Saking telitinya, hingga pengambilan akhir Surat at-Taubah sempat terhenti karena tidak bisa dihadirkannya dua orang saksi yang menyaksikan bahwa akhir Surat at-Taubah tsb ditulis di hadapan Rasululllah saw, kecuali kesaksian Khuzaimah saja. Para sahabat tidak berani menghimpun akhir ayat tersebut, sampai terbukti bahwa Rasulullah telah berpegang pada kesaksian Khuzaimah, bahwa kesaksian Khuzaimah sebanding dengan kesaksian dua orang muslim yang adil. Barulah mereka menghimpun lembaran yang disaksikan oleh Khuzaimah tersebut.

Demikianlah, walaupun para sahabat telah hafal seluruh ayat al-Qur`an, namun mereka tidak hanya mendasarkan pada hafalan mereka saja.

Akhirnya, rampung sudah tugas pengumpulan al-Qur`an yang sangat berat namun sangat mulia ini. Perlu diketahui, bahwa pengumpulan ini bukan pengumpulan al-Qur`an untuk ditulis dalam satu mushhaf, tetapi sekedar mengumpulkan lembaran-lembaran yang telah ditulis di hadapan Rasulullah saw ke dalam satu tempat.

Lembaran-lembaran al-Qur`an ini tetap terjaga bersama Abu Bakar selama hidupnya. Kemudian berada pada Umar bin al-Khaththab selama hidupnya. Kemudian bersama Ummul Mu`minin Hafshah binti Umar ra sesuai wasiat Umar.

* * *

PENYALINAN AL-QUR`AN

Kemudian datanglah masa pemerintahan Amirul Mu`minin Utsman bin Affan ra. Di wilayah-wilayah yang baru dibebaskan, sahabat nabi yang bernama Hudzaifah bin al-Yaman terkejut melihat terjadi perbedaan dalam membaca al-Qur`an. Hudzaifah melihat penduduk Syam membaca al-Qur`an dengan bacaan Ubay bin Ka’ab. Mereka membacanya dengan sesuatu yang tidak pernah didengar oleh penduduk Irak. Begitu juga ia melihat penduduk Irak membaca al-Qur`an dengan bacaan Abdullah bin Mas’ud, sebuah bacaan yang tidak pernah didengar oleh penduduk Syam. Implikasi dari fenomena ini adalah adanya peristiwa saling mengkafirkan di antara sesama muslim.  Perbedaan bacaan tersebut juga terjadi antara penduduk Kufah dan Bashrah.

Hudzaifah pun marah. Kedua matanya merah.

Hudzaifah berkata, “Penduduk Kufah membaca qiraat Ibnu Mas’ud, sedangkan penduduk Bashrah membaca qiraat Abu Musa. Demi Allah jika aku bertemu dengan Amirul Mu`minin, sungguh aku akan memintanya untuk menjadikan bacaan tersebut menjadi satu.”

Sekitar tahun 25 H, datanglah Huzaifah bin al-Yaman menghadap Amirul Mu`minin Utsman bin Affan di Madinah.

Hudzaifah berkata, “Wahai Amirul Mu`minin, sadarkanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang al-Kitab (al-Qur`an) sebagaimana perselisihan Yahudi dan Nasrani.”

Utsman kemudian mengutus seseorang kepada Hafshah agar Hafshah mengirimkan lembaran-lembaran al-Qur`an yang ada padanya kepada Utsman untuk disalin ke dalam beberapa mushhaf, dan setelah itu akan dikembalikan lagi.

Hafshah pun mengirimkan lembaran-lembaran al-Qur`an itu kepada Utsman.

Utsman lalu memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin al-‘Ash, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya ke dalam beberapa mushhaf.

Utsman bertanya, “Siapa yang orang yang biasa menulis?”

Dijawab, “Penulis Rasulullah saw adalah Zaid bin Tsabit.”

Utsman bertanya lagi, “Lalu siapa oang yang paling pintar bahasa Arabnya?”

Dijawab, “Said bin al-‘Ash.

Utsman kemudian berkata, “Suruhlah Said untuk mendiktekan dan Zaid untuk menuliskan al-Qur`an.”

Saat proses penyalinan mushhaf berjalan, mereka hanya satu kali mengalami kesulitan, yakni adanya perbedaan pendapat tentang penulisan kata “at-Taabuut”.

Seperti diketahui, yang mendiktekannya adalah Said bin al-Ash dan yang menuliskannya adalah Zaid bin Tsabit. Semua dilakukan di hadapan para sahabat. Ketika Said bin al-Ash mendiktekan kata at-Taabuut maka Zaid bin Tsabit menuliskannya sebagaimana ditulis oleh kaum Anshar yaitu at-Taabuuh, karena memang begitulah menurut bahasa mereka dan begitulah mereka menuliskannya. Tetapi anggota tim lain memberitahukan kepada Zaid bahwa sebenarnya kata itu tertulis di dalam lembaran-lembaran al-Qur`an dengan Ta` Maftuhah, dan mereka memperlihatkannya ke Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit memandang perlu untuk menyampaikan hal itu kepada Utsman supaya hatinya menjadi tenang dan semakin teguh. Utsman lalu memerintahkan mereka agar kata itu ditulis dengan kata seperti dalam lembaran-lembaran al-Qur`an yaitu dengan Ta` Mahtuhah. Sebab hal itu merupakan bahasa orang-orang Quraisy, lagi pula al-Qur`an diturunkan dengan bahasa mereka. Akhirnya ditulislah kata tersebut dengan Ta` Maftuhah.

Demikianlah, mereka tidak berbeda pendapat selain dari perkara itu, karena mereka hanya menyalin tulisan yang sama dengan yang ada pada lembaran-lembaran al-Qur`an, dan bukan berdasarkan pada ijtihad mereka.

Setelah mereka menyalin lembaran-lembaran tersebut  ke dalam mushhaf, Utsman segara mengembalikannya kepada Hafshah.

Utsman kemudian mengirimkan salinan-salinan mushhaf ke seluruh wilayah negeri Islam agar orang-orang tidak berbeda pendapat lagi tentang al-Qur`an. Jumlah salinan yang telah dicopy sebanyak tujuh buah. Tujuh salinan tersebut dikirimkan masing-masing satu copy ke kota Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan Madinah. Mushhaf inilah yang kemudian dikenal dengan nama Mushhaf Utsmani.

Utsman kemudian memerintahkan al-Qur`an yang ditulis oleh sebagian kaum muslimin yang bertentangan dengan Mushhaf Utsmani yang mutawatir tersebut untuk dibakar.

Pada masa berikutnya kaum muslimin menyalin mushhaf-mushhaf yang lain dari mushhaf Utsmani tersebut dengan tulisan dan bacaan yang sama hingga sampai kepada kita sekarang.

Adapun pembubuhan tanda syakal berupa fathah, dhamah, dan kasrah dengan titik yang warna tintanya berbeda dengan warna tinta yang dipakai pada mushhaf yang terjadi di masa Khalifah Muawiyah dilakukan untuk menghindari kesalahan bacaan bagi para pembaca al-Qur`an yang kurang mengerti tata bahasa Arab. Pada masa Daulah Abbasiyah, tanda syakal ini diganti. Tanda dhamah ditandai dengan dengan wawu kecil di atas huruf, fathah ditandai dengan alif kecil di atas huruf, dan kasrah ditandai dengan ya` kecil di bawah huruf.

Begitu pula pembubuhan tanda titik di bawah dan di atas huruf di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan dilakukan untuk membedakan satu huruf dengan huruf lainnya.

Dengan demikian, al-Qur`an yang sampai kepada kita sekarang adalah sama dengan yang telah dituliskan di hadapan Rasulullah saw. Allah SWT telah menjamin terjaganya al-Qur`an. Tidak ada orang yang berusaha mengganti satu huruf saja dari al-Qur`an kecuali hal itu akan terungkap.

Allah SWT berfirman:

Innaa nahnu nazzalnadz dzikra wa innaa laHu lahaafizhuun

Artinya:

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr [15]: 9)


Oleh karena itu, tidak perlu kita ragu-ragu terhadap orisinalitas al-Qur`an. Tak perlu kita terprovokasi tipu daya orang-orang liberal yang berupaya membuat kita ragu-ragu terhadap al-Qur`an. Orang-orang liberal itu memang telah berguru kepada para orientalis yang mempelajari al-Qur`an bukan untuk mengimaninya, bukan untuk menerapkan hukum-hukum yang ada di dalamnya. Mereka mempelajari al-Qur`an untuk mencari-cari cara agar bisa melemahkan aqidah umat Islam. Semoga Allah menghancurkan rencana-rencana mereka. Semoga Allah membuat sakit yang ada pada hati mereka semakin parah dan semakin parah. Semoga Allah segera membinasakan mereka karena sakit itu. Amin ya Allah ya Mujiibas saa`iliin.[]

Monday, 11 July 2016

0 Tentang penguasaan pikiran

Tentang penguasaan pikiran.


Hidup itu indah. Dalam pergembaraan pikiran 
Selalu dinamis melewati waktu
Meninggalkan jejak pengalaman
Rasa.suasana.dan kenangan.

Bagiku semua itu membentuk kita kini. Sebagai pribadi.
umur bagiku sejumlah masa yg terlewat.dgn pengalaman.
Semangat adalah rasa syukur dengan lebih ringan.menghadapi hidup berbekal.pengalaman masa lewat.
Teman,sahabat,saudara.

Realita hidup itu adalah saat ini.
Belajarlah dari pengalamanmu
Krn hari ini terjadi karena kemarinmu.
Berpikirlah baik.baik saja
Berbuatlah yg terbaik saja.
Krn hari esok akan terjadi karena masa yang telah lewat.

Aku yang percaya dengan pengedalian pikiran
Pusatkanlah pikiranmu kedalam hal.hal yg baik.baik saja.
Visualisasikan hal.hal yang indah dan luar biasa untuk hari.hari yang akan datang.
Ijinkan langkah kita menuju hidup yg ter baik dimasa yang akan datang.

0 Lalu siapakah Aku ini?

 Lalu siapakah Aku ini?



Kata "Aku" adalah kata yg paling sering kita gunakan, kata "Aku" adalah mewakili kesalahan sekaligus kebenaran terdalam, tergantung bagaimana ia digunakan.
Kata "Aku" adalah kata yg paling 'menyesatkan', dalam penggunaan sehari2 kata "Aku" mewakili kesalahan fundamental mengenai siapa kita sesungguhnya dan rasa khayalan mengenai identitas kita. Itulah Albert Einstein mengatakan sebagai "kesalahan ilusi optik atas kesadaran"

Diri khayalan itu kemudian mjd bahan dasar dari interpretasi selanjutnya, atau interpretasi salah dlm realitas. Bagaimana kita bisa mengenali realitas bila kita sendiri salah menilai siapa adanya diri kita ini. Semua proses berpikir, berinteraksi mjd salah krn interpretasi dasarnya salah. Dg kata lain realitas kita mjd refleksi ilusi kita. Atau bagaimana seseorang dikatakan melakukan tindakan mulia, bila interpretasi siapa dirinya pun salah, yg demikian dlm bhs Jawa dikatakan sebagai 'ngelindur'.

Namun dg menyadari ilusi sbg ilusi, maka ilusi tsb akan larut, pengenalan akan ilusi mjdkan ilusi tsb berakhir. Dalam penglihatan apa yg bkn diri kita menjadikan kenyataan akan Diri kita yg sejati muncul dg sendirinya.




Semarang 12 juli 2016
Mahasiswa Teknik Informatika
Mahindra Suryaning Praja

Monday, 27 June 2016

0 Nikahi Wanita Cerdas Jika Ingin Punya Anak Pintar, Sebab Kepandaian Anak Menurun Dari Ibunya

Nikahi Wanita Cerdas Jika Ingin Punya Anak Pintar, Sebab Kepandaian Anak Menurun Dari Ibunya 




Faktor genetik adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kecerdasan seseorang. Jika Anda ingin mempunyai anak yang cerdas, carilah seorang istri yang cerdas, karena ternyata kecerdasan anak diturunkan dari ibu.

IBU YANG CERDAS BERPOTENSI MELAHIRKAN ANAK YANG CERDAS PULA

Menurut Dr. Ben Hamel, seorang ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands, kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari Ibu. Ibu yang memiliki 23 pasang kromosom XX tentunya lebih berperan dalam menentukan kecerdasan seseorang. Oleh karena itu, Ibu yang cerdas berpotensi melahirkan anak yang cerdas pula.

Namun demikian, tidak selalu kecerdasan 100% diturunkan dari Ibu kepada anaknya. Penurunan sifat ini bisa saja gagal oleh karena beberapa faktor. Salah satu penyebabnya bisa karena kegagalan peleburan kromosom pada saat fertilisasi. Kegagalan ini dapat menimbulkan kelainan yang berupa retardasi mental.

DASAR PEMBENTUKAN INTELEGENSIA SESEORANG DIPENGARUHI OLEH 3 HAL YAITU NUTRISI, STIMULASI DAN GENETIK ATAU KETURUNAN

Menurut neurolog sekaligus Kabid Pemeliharaan Peningkatan Intelegensia Kesehatan Depkes RI, Adre Mayza SpK, Seperti dikutif dari detikhealth, dasar pembentukan intelegensia seseorang dipengaruhi oleh 3 hal yaitu nutrisi, stimulasi dan genetik atau keturunan.

Meski tidak mempengaruhi seutuhnya, namun banyak juga anak yang terlahir cerdas dari orang tua yang cerdas. “Gen ibu lebih banyak berperan pada kecerdasan anak. Kalau anaknya cerdas, biasanya ibunya juga cerdas. Jadi kalau cari suami nggak perlu yang pintar-pintar amat, tapi kalau cari istri kalau bisa yang pintar,

mamah muda yayaz endut