Friday, 23 September 2016

0 MENIKAH : SENI MENGALAH

MENIKAH : SENI MENGALAH


Beberapa pekan jelang menikah, saya yang kala itu masih berusia 22 tahun, meguru pada ibu. Apa yang perlu dilakukan agar pernikahan berjalan damai?
Ibu menjawab tanpa berpikir panjang. Seolah pertanyaan yang saya ajukan se sepele resep sayur lodeh.
“Nikah ki yo anggere wani ngalah..” (Nikah itu pokoknya berani mengalah)
Dua kata yang menggedor batin saya: BERANI dan MENGALAH
Kata BERANI biasanya disandingkan dengan hal yang berat, bahkan horor. “Berani mati” misalnya. Tapi ibu menyandingkan kata itu dengan MENGALAH. Saya mulai memahaminya sebagai tugas berat, yang tidak semua orang mau dan mampu menjalankannya.
Mengalah
Dan ini yang pada akhirnya saya jumpai, lalu saya pelajari dari lelaki yang sejak 18 tahun lalu saya dapati memiliki kepribadian baik.
Saat pernikahan masih serba kekurangan, dia akan lebih dulu mengambil piring plastik agar saya bisa menggunakan piring beling.
Saat anak belum lulus toilet training, dia yang akan bangun di tengah malam untuk menatur si kecil, padahal yang anak panggil saat itu adalah ibunya.
Saat makan di luar, dia akan makan dengan terburu-buru agar bisa cepat bergantian menggendong si kecil. Demi kuah bakso di mangkok saya tidak keburu dingin.
Saat mendapati satu bacaan yang menarik, dan saya tertarik, dia akan mengangsurkan bacaan itu. “Bacalah lebih dulu. Aku sudah selesai”
Saat memasak dan jumlah masakan itu terbatas. Bukan saya yang menyisihkan untuk bagiannya, tapi dia yang akan mengambilkan lebih dulu untuk saya, dalam jumlah yang lebih banyak darinya. “Aku sudah kenyang..” dan saya tahu itu bohong.
Saat ada sepotong roti, dia akan membaginya tidak sama besar. Tapi saya yang lebih besar. “Kamu kan menyusui. Butuh lebih banyak kalori..” dan kami akan berdebat panjang, lalu diakhiri dengan saya tidak akan memakan bagian yang besar itu sampai dia tarik kembali agar beratnya sepadan.
Saat saya akan memakai kamar mandi belakang (yang ukurannya lebih kecil dari kamar mandi depan) dia yang sedang berada di kamar mandi depan segera keluar dan meminta saya menempatinya. “Aku di belakang aja. Nanti kamu kaget kalau banyak kecoa..”
Saat saya marah, meski kemarahan itu tidak masuk akal, dia yang mendekat, mengangsurkan tangan dan meminta maaf. Padahal masalah sebenarnya pun belum terang ia cerna.
Ini akhlak. Ini ngalah. Dan ini cinta
Entah bagaimana caranya dia tidak bosan mengalah, dan tidak pula berdendang “Mengapa s’lalu aku yang mengalah..”
Enteng saja dia menjalani itu. Ikhlas saja. Senang-senang saja. Tapi dampaknya sangat besar buat saya.
Apa itu? Penghormatan, penghargaan, dan respek.
Untuk segi kematangan emosional, saya tertatih-tatih di belakangnya. Marah dan mau menang sendiri, selalu menjadi bagian saya.
Tapi sikap ngalah yang dia tunjukkan, lambat laun jadi mematangkan emosi itu. Sekaligus membuat saya juga jadi ingin mengalah. Ngalah untuk tidak memancing sikap ngalahnya, yang saya rasa sudah berlebihan dia beri pada saya.
Ya..ya.. pernikahan memang selaiknya menjadi hubungan yang take and give. Saling memberi saling menerima. Saling menutupi dan memahami.
Tentu jika hanya satu pihak saja yang terus mengalah, dan pihak yang lain memanfaatkan sikap ngalah itu, kedamaian hanya jadi angan. Karena pasti ada bom waktu di balik sikap ngalah itu.
Namun mengalah adalah seni untuk memenangkan hati pasangan. Dan pasangan yang baik (baca: tahu diri) pasti akan menyambut sikap ngalah ini dengan suka cita, kesyukuran, lalu menghargai usaha dari pasangannya.
Mungkin ini yang membuat ibu menjawab “ngalah” sebagai kunci kedamaian berumah tangga.

******************************************************************************************************************************************************************
Dan kini saya pun bertanya padanya, si lelaki pengalah itu. “Mengapa kamu selalu mengalah padaku?”
Jawabannya sederhana saja. Se-sederhana resep sayur lodeh:
“Aku tidak pernah merasa ngalah. Yang aku lakukan hanyalah menjaga agar kita tidak pernah terpecah belah..”
Untukmu yang berani mengalah,
Saya copas dari tulisannya Mbak Wulan Darmanto
******************************************************************************************************************************************************************



Thursday, 15 September 2016

0 Rasa Kecewa



Hati sedang kecewa dan terluka? Hati sedang sangat lemah? Tidak tenang? 
Didalam dunia ini, tiada siapa yang mau merasa kecewa dan terluka. Dan menjadi lemah akibat daripada permainan perasaan ini. Merasa lemah dan tidak tenang sehinggakan air mata ingin sekali untuk menitis setiap waktu. 
Namun bukan semua masalah kekecewaan berlaku kerana percintaan & masalah jodoh saja. Ada juga yang kecewa mungkin kerana perkara lain. 
Boleh jadi akibat terluka dengan tindakan ibu bapa. Malah, mungkin juga berkecil hati dengan sikap anak – anak kita, saudara kita, teman teman kita dll. 
Lalu Dari mana sih Rasa kekecewaan ini muncul?  
Manusia tercipta sebagai "Jembatan Penghubung" bagi manusia lainnya juga alam semesta di sekitarnya sebagai sarana ibadah pada SANG PENCIPTA.
Tapi “Jembatan Penghubung” itu  kadang di kuasai egoisme(ke akuan). Maka tdk heran apabila pandangan kita thd orang lain juga terbungkus sifat keegoisan ini. Titik tolaknya adalah perasaan untung rugi. 
Org lain yg menguntungkan dirinya tentu di pandang sebagai orang baik, sebaliknya yg merugikan dirinya tentu di pandang orang jahat. 
Keuntungan dan kerugian ini dalam arti yg luas baik, baik secara lahir atau bathin.
 Beginalah seharusnya seorang istri atau suami bersikap pada pasangannya. 
 Dalam pikiran kita tertanam begininalah seharusnya seseorang itu bersikap. 
Seorang orang tua beginilah idealnya bersikap pada anaknya. 
Beginilah seorang atasan pada bawahannya. 
Beginilah seorang teman pada kita. 
Beginilah seharusnya seorang anak pada ortunya. 
Beginilah seharusnya seorang senior bersikap pada junior atau Junior pada seniornya.
Dalam alam bawah sadar kita munculah kalimat seperti 
Jadi seharusnya begini.....! 
jadi seharusnya begitu.....! 
baiknya begini......! 
baiknya begitu.....! 
tetapi kenyataan terjadi tidaklah sama 
kok jadi seperti ini...! 
kok jadi seperti itu....!  
Nah benturan antara kenyataan dan keinginan lahirlah kekecewaan. 
Memaksa agar orang atau keadaan orang lain bersikap atau keadaan sesuai dengan keinginan inilah sumber kekecewaan.  
Rasa kecewa sebenarnya sumbernya bukanlah karena sikap orang lain pada kita. Tapi sebenarnya dari diri kita sendiri. Permainan pikiran kita sendiri. 
Sumbernya dari Keinginan dan Harapan sendiri. Keinginan agar seseorang dan keadaan sesuai dengan apa yg kita inginkan dan Harapkan. Sehingga kita berharap seseorang itu seharusnya berpikir, bertindak, berucap, bersikap sesuai alur pikiran kita.  
 Jikalau kecewa ini datangnya sendirian, mungkin efeknya tidak begitu besar, tapi terkadang kecewa ini datangnya membawa sekelompok teman temannya yg cukup berarti ikut membuat orang yg disinggahi menjadi pesakitan yg sangat menderita, pertanyaannya siapa teman teman dari kecewa ini ?
Rasa sedih, rasa benci, kemarahan, rasa tidak berguna lagi, rasa tidak diperhatikan lagi, rasa hidup sendiri, kekesalan/kedongkolan dan lain lainnya, masih banyak lagi dan yg paling parah dari teman kecewa ini adalah rasa putus asa.
Umumnya orang yg disinggahi kecewa ini hanya terfokus pada penyebabnya saja, sehingga dia lupa dg efek yg ditimbulkannya.
Ya…hanya fokus pada penyebab.
Sebagai contoh penyebab kecewa  dikhianati. 
Penyebabnya pasangan kita berpaling, subyeknya pasangan kita.
Ya. Dia yg anda pikirkan terus, karena dia berkhianat maka anda menderita, maka teman teman dari kecewa mulai berdatangan, marah, benci, kesal, dongkol, sedih dan lan lain, dengan datangnya teman temannya ini maka pesta makin meriah di dalam hati si pesakitan, kalau hal ini di biarkan berlanjut, dampaknya akan semakin buruk.
 Tapi kita sebagai insan manusia yg dibekali akal, hati nurani dan pikiran dan juga iman.
Apakah kita harus kalah dg kecewa ini? 
Pilihan ada pada tangan kita, hidup jelas merupakan pilihan, dan agar pilihan ini tidak salah maka diperlukan KESADARAN dalam menyikapinya, apa kesadaran itu ?
Yaitu bila kita sudah bisa membuang kacamata untung rugi, benar salah.
“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.”( QS: Al-Israa’:83) 
hingga kita bisa FORGET AND FORGIVE, 
Artinya segera lupakan penyebab dari kecewa, hingga kita bisa melangkah tahap selanjutnya forgive, artinya maafkan, bukan berarti hanya memaafkan dari peyebab timbulnya kecewa, tapi yg terpenting maafkan diri dan hati sendiri, atas kesalahan menilai dari kekecewaan ini, ya persepsi yg salah terhadap kecewa yg kebanyakan menilai sebagai lawan bukan kawan, dan proses memaafkan diri sendiri ini tidaklah mudah pada sebagian orang, diperlukan kesadaran dan keberanian yg sangat besar untuk dapat melakukannya. 
Dengan Memaafkan,berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati menjadi sembuh. "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22)
 Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur'an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik.   Balasan terhadap kejahatan adalah pembalasan yang setimpal, tetapi barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, ganjarannya ditanggung oleh Allah (QS Al-Syura [42]: 40). 

0 hidup



Hidup ini membutuhkan perubahan, perubahan pemandangan, penglihatan dan pendengaran.
Romantika kehidupan ini justru merupakan nikmat hidup.
Bagaikan makanan, kalau yang ada hanya manis saja, tanpa mengenal rasa asam pahir getir dan asin, mana mungkin kita dapat menikmati rasa manis? 
Bahkan rasa manis itu akan menjadi memuakkan. 
Demikian pula dalam kehidupan ini, rasa senang yang terus menerus tanpa di selingi perasaan lain seperti kecewa dan susah, akan menjadi perasaan yang menjemukan. 
Tidak ada kesenangan abadi di dunia ini karena sesuatu yang di anggap menyenangkan itu kalau diberikan terus menerus tanpa ada perubahan, akan kehilangan anggapan menyenangkan itu.
Sebuah pantai laut dengan desir ombaknya akan terasa indah dan menyenangkan bagi pendatang dari kota, akan tetapi tanyakan kepada mereka yang tinggal di pantai, maka mereka akan mengatakan bahwa pemandangan itu membosankan dan mereka merindukan untuk pergi dan melihat kota dan gunung!.
Sebaliknya orang kota ingin ke pantai, orang gunung ingin ke kota dan orang kota ingin ke gunung.

Wednesday, 24 August 2016

0 Menyelam di samudera takdir

Menyelam di samudera takdir






Berilah perhatian sepenuhnya dan terimalah sepenuhnya apapun juga yang muncul dalam pola takdir Anda, karena apalagi yang sesuai bagi kebutuhan Anda? Dengan memberikan perhatian dan penerimaan sepenuhnya terhadap apa yang Anda kerjakan akan membebaskan Anda dari dominasi pikiran, selama ini dengan ketidaksadaran perhatian Anda diserap pikiran dan digunakan pikiran untuk berpikir secara terus menerus. Dari sinilah awal keruwetan dan permasalahan dalam hidup Anda.
Resistensi adalah pikiran itu sendiri, maka penerimaan sepenuhnya terhadap apa yang ada akan segera membebaskan Anda dari dominasi pikiran dan dengan demikian akan menghubungkan Anda dengan Kesejatian. Akibatnya, motivasi ego untuk berbuat sesuatu, ketakutan, keserakahan, pengendalian, mempertahankan atau memberi makan diri yang semu akan berhenti beroperasi. Suatu kecerdasan yang jauh lebih besar dari pikiran sekarang yang mengambil alih, yang dengan demikian suatu kualitas kesadaran akan mengalir dalam perbuatan Anda.
Seringkali penderitaan yang besar akan memaksa Anda untuk menyerah, melepaskan resistensi dan menerima sepenuhnya apa yang ada, dari sinilah muncul mukjizat yang besar. Timbulnya Kesadaran melalui sesuatu yang tampak jahat. Dampak akhir dari drama takdir yang nampak seolah jahat adalah memaksa umat manusia untuk menyadari siapa diri mereka melampaui nama dan bentuk. Namun semua itu tidak menjadi kenyataan sebelum kita menyerah, mengampuni dan dengan demikian kejahatan tersebut telah ditebus yang menjadikannya sebagai apa adanya.
Melalui penyerahan dan pengampunan yang pada dasarnya mengenali kurang pentingnya masa lalu, dan membiarkan kekinian sebagai apa adanya, akan menciptakan ruang hening kesadaran didalam dan mengelilingi diri Anda. Siapapun atau apapun yang memasuki medan keheningan itu akan terkena pengaruhnya, adakalanya secara langsung dan ada kalanya di tingkat yang lebih dalam dengan perubahan nyata yang baru tampak kemudian.

Wednesday, 13 July 2016

0 Pasrah

Pasrah


Apapun yg tidak enak Anda lakukan, setidaknya Anda dpt menerimanya dg ikhlas sbg sesuatu yg harus Anda lakukan. Secara eksplisit Keikhlasan berarti : Untuk sekarang inilah apa yg diinginkan situasi ini, saat ini, untuk saya lakukan, sehingga saya bersedia melakukannya. Secara implisit menyiratkan kita harus menerima dulu dlm diri kita apa yg tjd, dan keindahan adalah aspek lain setelahnya.

Melakukan tindakan dg pasrah berarti Anda merasa tenang saat melakukan. Ketenangan itu adalah 'Kesadaran', pada permukaannya tindakan yg pasrah spt pasif, tetapi sesungguhnya aktif dan kreatif krn tindakan tsb adalah tindakan berserah diri, kita mjd menyatu dengan situasi dan situasi menjadi diri kita sendiri yg tentunya didukung sepenuhnya oleh kecerdasan universal. Setelahnya Anda akan menikmati tindakan Anda yg kemudian disusul dg keadaan antusias dlm pelaksanaannya.


Tuesday, 12 July 2016

0 Sejarah Penulisan, Pengumpulan, dan Penyalinan al-Quran

 Sejarah Penulisan, Pengumpulan, dan Penyalinan al-Quran


Tak henti-hentinya kaum liberal berusaha menghambat kembalinya kaum muslimin menerapkan Syariat Islam. Salah satunya adalah dengan membuat kaum muslimin ragu-ragu akan keotentikan Mushhaf al-Qur`an sebagai wahyu Allah. Jika kaum muslimin telah ragu terhadap orisinalitas al-Qur`an sebagai wahyu Allah, maka syariat Islam semakin bisa dihambat penerapannya.

Manusia-manusia jahat itu banyak memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat tentang sejarah penulisan, pengumpulan dan penyalinan al-Qur`an. Oleh karena itu, sangat penting penyampaian Sejarah Penulisan, Pengumpulan, dan Penyalinan al-Qur`an.

PENULISAN AL-QUR`AN

Ketika diturunkan satu atau beberapa ayat, Rasul saw langsung menyuruh para sahabat untuk menghafalkannya dan menuliskannya di hadapan beliau. Rasulullah mendiktekannya kepada para penulis wahyu. Para penulis wahyu menuliskannya ke dalam lembaran-lembaran yang terbuat dari kulit, daun, kaghid, tulang yang pipih, pelepah kurma, dan batu-batu tipis.

Mengenai lembaran-lembaran ini Allah SWT berfirman:

Rasuulun minallaaHi yatluu shuhufan muthaHHarah

Artinya:

(yaitu) seorang utusan Allah (yakni Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (al-Qur`an) (QS. Al-Bayyinah [98]: 2)

Rasulullah saw mengizinkan kaum muslimin untuk menuliskan al-Qur`an berdasarkan apa yang beliau diktekan kepada para penulis wahyu. Rasulullah saw bersabda:

Laa taktubuu ‘annii, wa man kataba ‘annii ghairal qur`aani falyamhuHu

Artinya:

Janganlah kalian menulis dari aku. Barangsiapa yang telah menulis dari aku selain al-Qur`an hendaknya ia menghapusnya. (HR. Muslim)

Rasulullah saw tidak khawatir dengan hilangnya ayat-ayat al-Qur`an karena Allah telah menjamin untuk memeliharanya berdasarkan nash yang jelas:

Innaa nahnu nazzalnadz dzikra wa innaa laHu lahaafizhuun

Artinya:

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr [15]:9)

Rasulullah saw gembira dan ridha dengan al-Qur`an sebagai mukjizat terbesarnya yang dapat digunakan sebagai hujjah terhadap orang-orang Arab maupun orang-orang di seluruh dunia

Ketika Nabi saw wafat, al-Quran secara keseluruhan sudah tertulis pada lembaran-lembaran, tulang-tulang, pelepah kurma, dan batu-batu tipis, dan di dalam hafalan para sahabat ra.

* * *

PENGUMPULAN AL-QUR`AN

Di masa pemerintahan Khalifatur Rasul Abu Bakar ash-Shiddiq ra, terjadi perang Yamamah yang mengakibatkan  banyak sekali para qurra’/ para huffazh (penghafal al-Qur`an) terbunuh. Akibat peristiwa tersebut, Umar bin Khaththab merasa khawatir akan hilangnya sebagian besar ayat-ayat al-Qur`an akibat wafatnya para huffazh. Maka beliau berpikir tentang pengumpulan al-Qur`an yang masih ada di lembaran-lembaran.

Zaid bin Tsabit ra berkata:

Abu Bakar telah mengirim berita kepadaku tentang korban Perang Ahlul Yamamah. Saat itu Umar bin Khaththab berapa di sisinya.

Abu Bakar ra berkata, bahwa Umar telah datang  kepadanya lalu ia berkata: “Sesungguhnya peperangan sengit terjadi di hari Yamamah dan menimpa para qurra’ (para huffazh). Dan aku merasa khawatir dengan sengitnya peperangan terhadap para qurra (sehingga mereka banyak yang terbunuh) di negeri itu. Dengan demikian akan hilanglah sebagian besar al-Qur`an.”

Abu Bakar berkata kepada Umar: “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasul saw?”

Umar menjawab: “Demi Allah ini adalah sesuatu yang baik.”

Umar selalu mengulang-ulang kepada Abu Bakar hingga Allah memberikan kelapangan pada dada Abu Bakar tentang perkara itu. Lalu Abu Bakar berpendapat seperti apa yang dipandang oleh Umar.

Zaid bin Tsabit melanjutkan kisahnya. Abu Bakar telah mengatakan kepadaku, “Engkau laki-laki yang masih muda dan cerdas. Kami sekali-kali tidak pernah memberikan tuduhan atas dirimu, dan engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah saw sehingga engkau selalu mengikuti al-Qur`an, maka kumpulkanlah ia.”

Demi Allah seandainya kalian membebaniku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, maka sungguh hal itu tidaklah lebih berat dari apa yang diperintahkan kepadaku mengenai pengumpulan al-Qur`an.

Aku bertanya: “Bagaimana kalian melakukan perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw?”

Umar menjawab bahwa ini adalah sesuatu yang baik. Umar selalu mengulang-ulang perkataaannya sampai Allah memberikan kelapangan pada dadaku seperti yang telah diberikanNya kepada Umar dan Abu Bakar ra.

Maka aku mulai menyusun al-Qur`an dan mengumpulkannya dari pelepah kurma, tulang-tulang, dari batu-batu tipis, serta dari hafalan para sahabat, hingga aku dapatkan akhir surat at-Taubah pada diri Khuzaimah al-Anshari yang tidak aku temukan dari yang lainnya, yaitu ayat:

Laqad jaaa`akum rasuulun min anfusikum ‘aziizun ‘alaiHi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil mu`miniina ra`uufur rahiim

Artinya:

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olenya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Taubah [9]: 128)

Pengumpulan al-Qur`an yang dilakukan Zaid bin Tsabit ini tidak berdasarkan hafalan para huffazh saja, melainkan dikumpulkan terlebih dahulu apa yang tertulis di hadapan Rasulullah saw. Lembaran-lembaran al-Qur`an tersebut tidak diterima, kecuali setelah disaksikan dan dipaparkan di depan dua orang saksi yang menyaksikan bahwa lembaran ini merupakan lembaran yang ditulis di hadapan Rasulullah saw. Tidak selembar pun diambil kecuali memenuhi dua syarat: 1) Harus diperoleh secara tertulis dari salah seorang sahabat. 2) Harus dihafal oleh salah seorang dari kalangan sahabat.

Saking telitinya, hingga pengambilan akhir Surat at-Taubah sempat terhenti karena tidak bisa dihadirkannya dua orang saksi yang menyaksikan bahwa akhir Surat at-Taubah tsb ditulis di hadapan Rasululllah saw, kecuali kesaksian Khuzaimah saja. Para sahabat tidak berani menghimpun akhir ayat tersebut, sampai terbukti bahwa Rasulullah telah berpegang pada kesaksian Khuzaimah, bahwa kesaksian Khuzaimah sebanding dengan kesaksian dua orang muslim yang adil. Barulah mereka menghimpun lembaran yang disaksikan oleh Khuzaimah tersebut.

Demikianlah, walaupun para sahabat telah hafal seluruh ayat al-Qur`an, namun mereka tidak hanya mendasarkan pada hafalan mereka saja.

Akhirnya, rampung sudah tugas pengumpulan al-Qur`an yang sangat berat namun sangat mulia ini. Perlu diketahui, bahwa pengumpulan ini bukan pengumpulan al-Qur`an untuk ditulis dalam satu mushhaf, tetapi sekedar mengumpulkan lembaran-lembaran yang telah ditulis di hadapan Rasulullah saw ke dalam satu tempat.

Lembaran-lembaran al-Qur`an ini tetap terjaga bersama Abu Bakar selama hidupnya. Kemudian berada pada Umar bin al-Khaththab selama hidupnya. Kemudian bersama Ummul Mu`minin Hafshah binti Umar ra sesuai wasiat Umar.

* * *

PENYALINAN AL-QUR`AN

Kemudian datanglah masa pemerintahan Amirul Mu`minin Utsman bin Affan ra. Di wilayah-wilayah yang baru dibebaskan, sahabat nabi yang bernama Hudzaifah bin al-Yaman terkejut melihat terjadi perbedaan dalam membaca al-Qur`an. Hudzaifah melihat penduduk Syam membaca al-Qur`an dengan bacaan Ubay bin Ka’ab. Mereka membacanya dengan sesuatu yang tidak pernah didengar oleh penduduk Irak. Begitu juga ia melihat penduduk Irak membaca al-Qur`an dengan bacaan Abdullah bin Mas’ud, sebuah bacaan yang tidak pernah didengar oleh penduduk Syam. Implikasi dari fenomena ini adalah adanya peristiwa saling mengkafirkan di antara sesama muslim.  Perbedaan bacaan tersebut juga terjadi antara penduduk Kufah dan Bashrah.

Hudzaifah pun marah. Kedua matanya merah.

Hudzaifah berkata, “Penduduk Kufah membaca qiraat Ibnu Mas’ud, sedangkan penduduk Bashrah membaca qiraat Abu Musa. Demi Allah jika aku bertemu dengan Amirul Mu`minin, sungguh aku akan memintanya untuk menjadikan bacaan tersebut menjadi satu.”

Sekitar tahun 25 H, datanglah Huzaifah bin al-Yaman menghadap Amirul Mu`minin Utsman bin Affan di Madinah.

Hudzaifah berkata, “Wahai Amirul Mu`minin, sadarkanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang al-Kitab (al-Qur`an) sebagaimana perselisihan Yahudi dan Nasrani.”

Utsman kemudian mengutus seseorang kepada Hafshah agar Hafshah mengirimkan lembaran-lembaran al-Qur`an yang ada padanya kepada Utsman untuk disalin ke dalam beberapa mushhaf, dan setelah itu akan dikembalikan lagi.

Hafshah pun mengirimkan lembaran-lembaran al-Qur`an itu kepada Utsman.

Utsman lalu memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin al-‘Ash, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya ke dalam beberapa mushhaf.

Utsman bertanya, “Siapa yang orang yang biasa menulis?”

Dijawab, “Penulis Rasulullah saw adalah Zaid bin Tsabit.”

Utsman bertanya lagi, “Lalu siapa oang yang paling pintar bahasa Arabnya?”

Dijawab, “Said bin al-‘Ash.

Utsman kemudian berkata, “Suruhlah Said untuk mendiktekan dan Zaid untuk menuliskan al-Qur`an.”

Saat proses penyalinan mushhaf berjalan, mereka hanya satu kali mengalami kesulitan, yakni adanya perbedaan pendapat tentang penulisan kata “at-Taabuut”.

Seperti diketahui, yang mendiktekannya adalah Said bin al-Ash dan yang menuliskannya adalah Zaid bin Tsabit. Semua dilakukan di hadapan para sahabat. Ketika Said bin al-Ash mendiktekan kata at-Taabuut maka Zaid bin Tsabit menuliskannya sebagaimana ditulis oleh kaum Anshar yaitu at-Taabuuh, karena memang begitulah menurut bahasa mereka dan begitulah mereka menuliskannya. Tetapi anggota tim lain memberitahukan kepada Zaid bahwa sebenarnya kata itu tertulis di dalam lembaran-lembaran al-Qur`an dengan Ta` Maftuhah, dan mereka memperlihatkannya ke Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit memandang perlu untuk menyampaikan hal itu kepada Utsman supaya hatinya menjadi tenang dan semakin teguh. Utsman lalu memerintahkan mereka agar kata itu ditulis dengan kata seperti dalam lembaran-lembaran al-Qur`an yaitu dengan Ta` Mahtuhah. Sebab hal itu merupakan bahasa orang-orang Quraisy, lagi pula al-Qur`an diturunkan dengan bahasa mereka. Akhirnya ditulislah kata tersebut dengan Ta` Maftuhah.

Demikianlah, mereka tidak berbeda pendapat selain dari perkara itu, karena mereka hanya menyalin tulisan yang sama dengan yang ada pada lembaran-lembaran al-Qur`an, dan bukan berdasarkan pada ijtihad mereka.

Setelah mereka menyalin lembaran-lembaran tersebut  ke dalam mushhaf, Utsman segara mengembalikannya kepada Hafshah.

Utsman kemudian mengirimkan salinan-salinan mushhaf ke seluruh wilayah negeri Islam agar orang-orang tidak berbeda pendapat lagi tentang al-Qur`an. Jumlah salinan yang telah dicopy sebanyak tujuh buah. Tujuh salinan tersebut dikirimkan masing-masing satu copy ke kota Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan Madinah. Mushhaf inilah yang kemudian dikenal dengan nama Mushhaf Utsmani.

Utsman kemudian memerintahkan al-Qur`an yang ditulis oleh sebagian kaum muslimin yang bertentangan dengan Mushhaf Utsmani yang mutawatir tersebut untuk dibakar.

Pada masa berikutnya kaum muslimin menyalin mushhaf-mushhaf yang lain dari mushhaf Utsmani tersebut dengan tulisan dan bacaan yang sama hingga sampai kepada kita sekarang.

Adapun pembubuhan tanda syakal berupa fathah, dhamah, dan kasrah dengan titik yang warna tintanya berbeda dengan warna tinta yang dipakai pada mushhaf yang terjadi di masa Khalifah Muawiyah dilakukan untuk menghindari kesalahan bacaan bagi para pembaca al-Qur`an yang kurang mengerti tata bahasa Arab. Pada masa Daulah Abbasiyah, tanda syakal ini diganti. Tanda dhamah ditandai dengan dengan wawu kecil di atas huruf, fathah ditandai dengan alif kecil di atas huruf, dan kasrah ditandai dengan ya` kecil di bawah huruf.

Begitu pula pembubuhan tanda titik di bawah dan di atas huruf di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan dilakukan untuk membedakan satu huruf dengan huruf lainnya.

Dengan demikian, al-Qur`an yang sampai kepada kita sekarang adalah sama dengan yang telah dituliskan di hadapan Rasulullah saw. Allah SWT telah menjamin terjaganya al-Qur`an. Tidak ada orang yang berusaha mengganti satu huruf saja dari al-Qur`an kecuali hal itu akan terungkap.

Allah SWT berfirman:

Innaa nahnu nazzalnadz dzikra wa innaa laHu lahaafizhuun

Artinya:

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur`an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr [15]: 9)


Oleh karena itu, tidak perlu kita ragu-ragu terhadap orisinalitas al-Qur`an. Tak perlu kita terprovokasi tipu daya orang-orang liberal yang berupaya membuat kita ragu-ragu terhadap al-Qur`an. Orang-orang liberal itu memang telah berguru kepada para orientalis yang mempelajari al-Qur`an bukan untuk mengimaninya, bukan untuk menerapkan hukum-hukum yang ada di dalamnya. Mereka mempelajari al-Qur`an untuk mencari-cari cara agar bisa melemahkan aqidah umat Islam. Semoga Allah menghancurkan rencana-rencana mereka. Semoga Allah membuat sakit yang ada pada hati mereka semakin parah dan semakin parah. Semoga Allah segera membinasakan mereka karena sakit itu. Amin ya Allah ya Mujiibas saa`iliin.[]

Monday, 11 July 2016

0 Tentang penguasaan pikiran

Tentang penguasaan pikiran.


Hidup itu indah. Dalam pergembaraan pikiran 
Selalu dinamis melewati waktu
Meninggalkan jejak pengalaman
Rasa.suasana.dan kenangan.

Bagiku semua itu membentuk kita kini. Sebagai pribadi.
umur bagiku sejumlah masa yg terlewat.dgn pengalaman.
Semangat adalah rasa syukur dengan lebih ringan.menghadapi hidup berbekal.pengalaman masa lewat.
Teman,sahabat,saudara.

Realita hidup itu adalah saat ini.
Belajarlah dari pengalamanmu
Krn hari ini terjadi karena kemarinmu.
Berpikirlah baik.baik saja
Berbuatlah yg terbaik saja.
Krn hari esok akan terjadi karena masa yang telah lewat.

Aku yang percaya dengan pengedalian pikiran
Pusatkanlah pikiranmu kedalam hal.hal yg baik.baik saja.
Visualisasikan hal.hal yang indah dan luar biasa untuk hari.hari yang akan datang.
Ijinkan langkah kita menuju hidup yg ter baik dimasa yang akan datang.