Saturday, 11 July 2015

0 Cerita Kita

Cerita Kita


Seluruh kehidupan kita sejak dilahirkan kedunia ini sampai sekarang telah menjadi konsep identitas kita, menjadi cerita kita, menjadi identitas palsu akan siapa adanya kita. Dan kemudian identitas tsb memenjarakan kita, kebanyakan malah mjd sesuatu yg dipertahankan mati2an, mrk mempertahankan ilusi2 mrk.

Manakala identitas palsu tsb telah dikenali, tidak ada lagi diri dalam diri kita, kita mjd kehampaan, keheningan, ketiadaan. Identitas palsu tsb hanyalah sekedar emosi manusia, pikiran manusia. Seluruh masa lalu pribadi kita, yang sebenarnya tidak lebih dari ilusi, sekedar cerita, sekumpulan pikiran dan emosi, menjadi sesuatu yang sekunder dan tidak menjadi hijab atas kesadaran kita. Ia tidak lagi menjadi identitas kita.

Kita adalah cahaya Kesadaran, cahaya Kehadiran, yang datang sebelum dan lebih dalam dari semua pikiran dan emosi, yang datang jauh sebelum akhirnya mewujud menjadi diri kita sbg sosok manusia.

0 Tujuan duniawi ditetapkan untuk gagal

Tujuan duniawi ditetapkan untuk gagal



Selama hidup bila kita belum mewujudkan apa yang menjadi tujuan spiritual, maka hal tersebut kelak akan menjadi masalah bagi kita. Bayang2 kematian kelak akan menghancurkan apa yg dg mati2an telah kita peroleh dalam pencapaian dlm bentuk materi atau tujuan duniawi.

Kita mungkin akan mjd gagal sepenuhnya dalam tujuan duniawi, dimana walau seluruh dunia kelak mjd milik kita tapi pada saat itu kemungkinan kita sdh terlalu tua guna menikmatinya, kematian sdh di depan mata. Inilah kenapa dikatakan tujuan diniawi kita adalah ditetapkan utk gagal, cepat atau lambat, hanya krn tujuan duniawi tunduk pada hukum ketidaktetapan, hukum kefanaan.

Semakin cepat kita menyadari bahwa tujuan duniawi tdk akan memberikan kepuasan abadi pada kita, tentu akan semakin baik. Ketika kita melihat keterbatasan tujuan duniawi, kita menyerahkan harapan kita yg tidak realistis tsb pada hal yg abadi dan tunduk pada tujuan spiritual yang mendamaikan dan abadi.

0 Selamat menikmati malam lailatul qodar ..

Selamat menikmati malam lailatul qodar ..



Jangan mencoba menjadi baik .. Kita tidak akan menjadi baik dengan mencoba menjadi baik, melainkan dengan menemukan kebaikan yg sdh ada dalam diri kita dan mengizinkannya utk muncul.

Dan itu hny akan muncul jika terjadi perubahan mendasar dalam kesadaran kita. Jaman telah mjd jaman edan, dimana saat perbuatan tulus bahkan di curigai. Ketidak percayaan mrk akan kebaikan dan ketulusan mjdkan mereka terbelenggu oleh ego mrk sendiri. Jika manusia belum melakukan perubahan di tingkat terdalam pd diri mereka, kemanusiaan menghadapi suatu pilihan yg kejam, bertransformasi atau mati.

Sebagian manusia walau masih sedikit jumlahnya telah sadar, lenyapnya pola pikiran lama yg egois dan muncul suatu dimensi kesadaran yg baru. Ketidaksadaran sebagian besar manusia adalah tidak sadar secara keseluruhan manusia terhubung satu dg yg lain bahkan dg keseluruhan yg ada di jagad semesta ini adalah bentuk 'dosa murni', ketika pandangan salah akan kesatuan segala sesuatu mjd dasar atas apa yg kita lakukan, katakan dan pikirkan mjdkan planet ini terancam punah

Sunday, 8 March 2015

0 Kisah di balik lagu "It Is Well With My Soul"

Kisah di balik lagu "It Is Well With My Soul"




Salah satu lagu inspirational yang membuatku meneteskan airmata ketika pertama kali mendengarnya. Syair-nya begitu menyentuh, khususnya kalimat "It is well with my soul". Karena penasaran, aku memanfaatkan google untuk mencari tahu siapa pencipta lagu tersebut dan ternyata ada kisah luar biasa di balik terciptanya lagu yang indah dan penuh semangat iman ini. Lirik lagu "It is well with my soul" ditulis oleh Horatio Spafford sementara musiknya dibuat oleh sahabatnya, Philips Paul Bliss.



Horatio G. Spafford lahir pada 20 Oktober 1828 di Lansungburgh, New York. Dia adalah seorang pengacara sekaligus pengusaha sukses di Chicago.  Horatio mempunyai seorang istri, Anna Spafford, dan 5 orang anak (1 orang laki-laki dan 4 orang perempuan). Pada tahun 1860-an keluarga Spafford merupakan salah satu keluarga yang terpandang di Chicago. Horatio mendapatkan keuntungan besar dari investasinya dalam reasl estate di sepanjangan tepi danau Michigan. Walaupun hidupnya serba serba berkelimpahan keluarga Spafford sangat aktif dalam kegiatan gereja sebagai seorang jemaat setia Presbysterian. 



Namun, kehidupan tidak selamanya membahagiakan bagi keluarga Spafford. Tragedi pertama terjadi pada tahun 1870 ketika putra satu-satunya, yang waktu itu berusia 4 tahun, meninggal akibat demam berdarah. Ketika belum sepenuhny apulih dari kesedihan akibat kehilangan putra tunggalnya, tragedi kembali melanda keluarga Spafford. Tahun 1871 terjadi sebuah kebakaran besar di Chicago (Great Chicago Fire) yang menyapu habis semua aset-aset real estatenya sehingga perusahaannya pun akhirnya bangkrut. Tidak berdiam diri dan jatuh dalam depresi, Horatio kembali usahanya sambil membantu sesama warga Chicago lainnya yang kehilangan tempat tinggal. 

Ketika keadaan agak mulai membaik, Horatio berencana membawa keluarganya berlibur ke Eropa untuk menenangkan diri. Pada tahun 1873, sahababatnya sekaligus seorang penginjil besar Amerika bernama D.L. Moddy berencana untuk mengadakan pertemuan penginjilan di Inggris sehingga Horatio membawa istri serta keempat anak perempuannya untuk mengikuti pertemuan tersebut. Keluarga Spafford bersiap untuk berlayar ke Inggris menaiki kapal uap Perancis bernama Vile du Havre dari pelabuhan New York dengan melintasi samudera Atlantik. Akan tetapi, sesaat sebelum kapal meninggalkan pelabuhan, Horatio terpaksa harus menunda keberangkatannya karena ada urusan bisnis yang sangat penting dan tidak bisa ditunda. Istri dan keempat anaknya tetap berangkat dan Horatio berjanji akan segera menyusul setelah urusan bisnisnya selesai. 

Pada malam tanggal 22 November 1873, tragedi kembali menerpa keluarga Spafford, kapal Vile du Havre yang mereka tumpangi bertabrakan dengan kapal besi Inggris,The Loch Earn. Hanya dalam tempo 12 menit Vile du Havre tenggelam dan menewaskan 226 penumpang, termasuk keempat putri Horatio : Annie, Maggie, Bessie dan Taneta. Anna Spafford termasuk salah satu dari 47 orang yang selamat. 


Anna yang selamat dari kecelakaan kapal tersebut mengisahkan saat-saat terakhir ketika tragedi itu merengut nyawa keempat putrinya : "Aku merasa seperti tersedot dengan keras ke bawah. Bayi taneta terlepas dari tanganku karena benturan dengan beberapa puing kapal. Benturan itu begitu keras sehingga lenganku memar parah. Aku mencoba menggapai untuk menangkap bayiku dan berhasil menangkap gaunnya, namun sesaat kemudian ombak menghantam dan merobek baju yang kugenggam dan menghempaskan bayiku dari tanganku selamanya."  Kedua putrinya yang lain, Maggie dan Annie ditolong oleh seorang pemmuda, penumpang kapal yang berhasil mengapung dengan sepotong kayu. Ia berenang mendekati kedua gadis itu dan menyuruh mereka menggenggam kedua sisi bajunya sambil mencoba mencari papan yang cukup besar untuk mereka bertiga. Setelah berjuang sekitar 30-40 menit di laut, mereka berhasil mendapatkan papan yang cukup besar dan pemuda itu berusaha membantu kedua gadis Spafford untuk naik ke papan. Tetapi ia melihat tangan mereka yang menggenggam bajunya mulai melemah dan mata mereka tertutup. Tubuh kedua gadis yang sudah tidak bernyawa lagi itu perlahan mengambang menjauh dari tubuh si pemuda yang juga lumpuh akibat kecelakaan tersebut. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada putri Stafford yang bernama Bessie. 

Dengan tubuh penuh memar dan luka, Anna Spafford berhasil diselamatkan, namun semua rasa sakit yang dideritanya tidak sepanding dengan kepedihan hati akibat kehilangan keempat putrinya. Pastor Nathaniel Weiss, salah seorang penumpang yang juga selamat dari kecelakaan kapal tersebut mendengar Anna berkata, "Tuhan memberiku empat anak perempuan. Sekarang mereka diambil dariku. Suatu hari nanti aku akan mengerti mengapa ..." Anna benar-benar hancur, namun dalam kesedihan dan keputusasaannya, ia mendengar suara lembut berbicara kepadanya, "Engkau diselamatkan untuk suatu tujuan." Anna teringat seorang teman pernah berkata, "Sangat mudah untuk bersyukur ketika engkau memiliki segala sesuatu, tetapi melupakan Tuhan dan hanya mengingatNya saat berada dalam masalah."

Sembilan hari setelah diselamatkan dan tiba di Cardiff, Wales, Anna mengirimkan telegram kepada suaminya. Telegram itu berisi kalimat : "Saved alone. What shall I do?" (aku sendiri yang selamat, apa yang harus kulakukan?)  Horatio bergegas menuju Inggris untuk menemani Anna dan berada di sisinya dalam masa-masa berat tersebut. 


Dalam perjalanan menuju Inggris, kapten kapal menunjukkan lokasi dimana kapal Vile du Havre tenggelam yang menewaskan empat putri Horatio. Malam itu Horatio tidak dapat tidur. Berjam-jam lamanya ia merenungkan dan mengingat semua tragedi yang terjadi pada keluarganya dan keempat putrinya yang meninggal di tengah-tengah samudera Atlantik itu. Dalam keadaan hati yang hancur, Horatio menulis pada secarik kertas, "It is well, the will of God be done." (Hal ini baik, kehendak Tuhan, terjadilah). Dia atas kapal inilah Horatio kemudian menulis hymne "It is well with my soul" yang jika diterjemahkan : Jiwaku sanggup menerima (cobaan ini) atau dalam terjemahan bebas : Jiwaku baik-baik saja (walau didera penderitaan). Ketika bertemu kembali dengan istrinya, ia berkata, "Kita tidak kehilangan anak-anak kita. Kita hanya berpisah dengan mereka untuk sementara."

Horatio membawa Anna kembali ke Chicago untuk memulai kembali kehidupan mereka. Tuhan mengaruniai mereka dengan tiga orang anak. Putra mereka yang lahir pada tahun 1876 diberi nama Horatio untuk mengenang putra mereka yang telah meninggal.  Pada tahun 1878 Horatio dan Anna dikaruniai seorang putri yang diberi nama Bertha dan dua tahun kemudian, 1880, lahirlah Grace. Tragisnya, ketika Horatio kecil berusia 4 tahun, ia juga meninggal karena penyakit demam seperti kakak lelakinya. Belum hilang kepedihan akibat wafatnya Horatio kecil, jemaat gereja mengucilkan mereka dengan alasan, "Pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan keluarga Spafford sehingga banyak tragedi menimpa mereka." 

Karena tidak lagi diterima jemaat di gerejanya, pada bulan September 1881, Horatio membawa keluarganya menuju Yerusalem untuk menetap di sana. Bersama beberapa kawan yang juga ikut pindah bersamanya, 
Horatio memulai sebuah kelompok pelayanan yang kemudian dikenal sebagai "American Colony." Mereka melayani orang-orang yang kekurangan, membantu orang miskin, merawat orang sakit dan menampung anak-anak tunawisma. Tujuan mereka hanyalah untuk menunjukkan kasih Yesus kepada sesama yang menderita. Novelis Swedia, Selma Ottiliana Lovisa Lagerlof menulis tentang pelayanan yang dilakukan kelompok ini dalam novelnya berjudul "Yerusalem." Novel tersebut berhasil memenangkan hadiah Nobel. 

Horation Spaffor meninggal karena malaria pada 16 Oktober 1888 di Yerusalem. Anna Spafford terus bekerja di daerah sekitar Yerusalem sampai kematiannya pada tahun 1923. 




Putri Horatio, Bertha Spafford Vester, menulis kisah ini dalam bukunya "Our Yerusalem" : "Di Chicago, ayah mencari penjelasan tentang hidupnya. Hingga saat ini, semuanya mengalir dengan lembut seperti sungai. Kedamaian rohani dan keamanan telah menopang awal hidupnya, kehidupan keluarganya, tempat tinggalnya ... orang di sekelilingnya bertanya-tanya, 'kesalahan apa yang menyebabkan terjadinya tragedi beruntun pada Horatio dan Anna Spafford?' ... tapi ayah yakin bahwa Allah baik dan ia akan melihat anak-anaknya lagi di surga nanti. Hal ini menenangkan hatinya. Bagi ayah, keadaan itu seperti melewati 'lembah bayang-bayang maut', tapi imannya bangkit dan kuat. Di laut lepas, dekat tempat dimana anak-anaknya tewas, ayah menulis hymne yang menenangkan banyak orang."  

Ini adalah sebuah lagu yang penuh kekuatan, kedamaian dan pengharapan.


When peace, like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll,
Whatever my lot, 
Thou has taught me to say,
It is well, it is well, 
with my soul.

It is well, with my soul.
It is well, with my soul.

It is well, it is well,
with my soul.

Though Satan should buffet, though trials should come,
Let this best assurance control
That Christ has regarded 
my helpless estate,
And hath shed His own blood 
for my soul.

My sin, oh, the bliss of this glorious thought!
My sin, not in part but the whole
Is nailed to the cross, and I bear it no more,
Praise the Lord, praise the Lord, oh my soul.

And Lord haste the day when my faith shall be sight,
The clouds be rolled back as a scroll,
The trump shall resound, and the Lord shall descend,
Even so, it is well with my soul.

It is well, with my soul. It is well, with my soul.
It is well, it is well, with my soul.




Sunguh sebuah kisah penuh inspirasi yang meneguhkan iman. Tragedi yang datang bertubi-tubi tidak melemahkan iman, tetapi semakin kuat berpegang pada Tuhan, berserah dan percaya bahwa Tuhan tahu yang terbaik, apapun itu, pastilah baik bagi jiwaku. 


Semarang, 8 maret 2015
Mahindra Suryaning Praja
Mahasiswa UDINUS jurusan Teknik Informatika

Sunday, 5 October 2014

0 SEMUANYA HANYA DATANG & PERGI

SEMUANYA HANYA DATANG & PERGI



Dari manakah datangnya kekecewaan?
 Mungkin dari harapan yang tidak terwujud.
 Dari manakah datangnya kesedihan?
 Mungkin dari milik kita yang hilang.
Dari manakah datangnya dendam?
Mungkin dari kepercayaan yang dikhianati.
Dari manakah datangnya kecemasan?
Mungkin dari lahirnya keinginan.

Harapan, rasa memiliki, kepercayaan pada seseorang, dan keinginan, bukanlah bagian dari dirimu. Mereka itu hanya tamu yang datang dan pergi. Harapan yang satu datang berkunjung, tapi suatu saat nanti kita akan mengharapkan yang lebih baik lagi. Rasa memiliki datang berkunjung, tapi suatu saat nanti kita harus merelakannya pergi. Entah karena hilang, rusak, punya yang baru, atau kita meninggal dunia. Kepercayaan pada seseorang datang berkunjung, tapi suatu saat nanti kepercayaan itu bisa bertambah, bisa berkurang, bisa tergantikan, atau bisa hilang. Keinginan yang satu datang berkunjung, tapi suatu saat nanti kita mungkin tidak lagi menginginkannya atau ingin yang lain lagi.

Mengapa mengandalkan sesuatu yang datang dan pergi untuk membuatmu selalu bahagia. Kebahagiaan yang dilekatkan pada sesuatu yang tidak abadi akan berubah menjadi ketidak-bahagiaan. Kenapa tidak mencari keabadian? Bukankan keabadian lebih layak untuk diharapkan, dimiliki, dipercaya, dan di-inginkan.

Keabadian bukanlah sesuatu yang punya awal, karena anda tidak pernah menyaksikan proses penciptaannya. Keabadian bukan sesuatu yang punya akhir, karena anda tidak pernah menyaksikan proses kehancurannya. Keabadian bukanlah sesuatu yang dapat berubah, karena anda tidak pernah menyaksikan bentuknya. Keabadian bukanlah sesuatu yang tersembunyi, karena anda tidak pernah menyaksikan ketidak-hadirannya.

Dirimulah keabadian itu. dirimulah satu-satunya yang layak untuk diharapkan, dimiliki, dipercaya, dan di-inginkan. Hanya saja anda perlu menjadi sadar sebelum bisa menghargai dirimu sendiri


Semarang, 5 Oktober 2014
Mahindra Suryaning Praja
Mahasiswa UDINUS jurusan Teknik Informatika

Saturday, 27 September 2014

0 Rasa takut itu tak lebih dari tidak hadirnya kesadaran.

                        Rasa takut itu tak lebih dari tidak hadirnya kesadaran.

Kesadaran yang saya maksud ini bukan "consciousness", melainkan "awareness" yang mungkin lebih merujuk kepada pengetahuan atau pemahaman kita terhadap eksistensi suatu benda, orang, tempat atau kejadian di sekitar kita. Contohnya, seseorang yang takut pada kucing tidak menyadari bahwa kucing itu memiliki sisi yang menyenangkan dan menghibur. Seseorang yang takut menjadi kaya tidak menyadari bahwa dengan memiliki banyak uang, dia bisa memberi lebih banyak hal bagi orang lain.
Merespon kutipan Joseph Campbell ini, memang kita tidak harus menelan mentah-mentah. Tidak semua goa itu ada harta karunnya. Tidak semua hal yang membuat kita takut itu menyimpan sesuatu yang kita inginkan. Mungkin memang rasa itu hadir untuk menyelamatkan kita. Seperti halnya orang yang takut pada ular yang memang berbahaya. Namun bagi orang yang menyadari sisi lain dari ular, ular merupakan obat bagi beberapa penyakit, dan kulit ular memiliki nilai ekonomi. Begitu juga dengan rasa takut yang sering kita alami dalam merespon sesuatu. Sesuatu yang kita sangat kita inginkan, terkadang berada di balik sesuatu yang kita takuti.

Nah… Apakah kita perlu blusukan ke goa menakutkan? Bagaimana caranya kita agar bisa mengambil harta karun yang kita inginkan? Ada dua cara:

Yang pertama, kita tentukan dulu “harta karun apa yang kita inginkan” Kalau berada di luar goa, ya kita tinggal ambil aja. Ga harus masuk-masuk goa. Nah… Bila harta karun itu ada di dalam goa yang menakutkan itu, baru lah masuk ke dalamnya.

Yang kedua, dengan mengeksplorasi hal-hal baru yang mungkin takut kita jalani sebelumnya. Eksplorasi di sini tidak harus langsung dilakukan. Kita bisa mengeksplorasi lewat pengalaman orang lain. Sesuatu hal yang menakutkan pasti menampakkan suatu resiko. Kita pelajari dahulu resikonya. Apakah resiko-resiko itu menyimpan manfaat yang besar di baliknya atau tidak? Apakah harta karun yang ada di goa menakutkan itu memiliki versi lain yang disimpan ditempat yang tidak menakutkan? (Kalau memang ada barang yang sama disimpan di tempat lain yang lebih mudah dan lebih indah, ngapain juga kita blusukan ke tempat menyeramkan :D) Dan bila memang hanya ada di tempat menakutkan tersebut, bagaimana cara mengelola resikonya? Jika kita sudah yakin, barulah masuk ke dalamnya.
Mungkin kawan-kawan bertanya dalam hati.
“Contoh konkrit yang kamu alami sendiri apa, Web?Jangan-jangan kamu ini ikut-ikut tokoh yang suka pencitraan itu ya? Kutip sana kutip sini di post di FB biar kelihatan hebat. Teori melulu. No action talk only…”

Hahaha… Bercanda, kawan-kawan. Saya yakin kawan-kawan saya di sini selalu positive thinking. Terlebih, apapun yang saya posting di sini selalu ada sejarahnya. Paling sederhana adalah saya baru saja baca buku, lihat video atau diskusi sesuatu yang membahas kutipan sersebut dengan kawan.

0 KELUARGA BAHAGIA/HAPPY FAMILY

 KELUARGA BAHAGIA/HAPPY FAMILY



Memiliki keluarga bahagia adalah cita-cita setiap orang. Namun memiliki Keluarga Bahagia itu tidaklah sesederhana meminta sesuatu yang murah. Ada hukum kepantasan. Ada sesuatu yang harus dibayar, yang tak cukup dibayar dengan uang. Sesuatu yang dibayar dengan pelaksanaan peran kita di dalamnya dengan baik.

Lalu apa kah hal yang menakutkan bagi saya untuk memiliki Keluarga Bahagia?

Nah… Apakah goa menakutkan itu – trauma masa kecil saya – membuat saya berhenti untuk memiliki Keluarga yang Bahagia? Tentu saja tidak. Saya tetap membangun hubungan dengan seorang wanita, sebagai pria dari keluarga normal lainnya. Saya pun menyadari dan memaklumi, di dalam goa menakutkan ini juga memiliki banyak lorong-lorong nenyeramkan. Kekecewaan yang saya dapatkan ketika menjalin hubungan, yang berpotensi menjadi trauma-trauma baru. Namun di sini saya belajar manajemen resiko. Bagaimana caranya?

Dengan memahami tentang berlakunya “Hukum Tarik Menarik”. Kita menarik orang yang memiliki getaran sama dengan getaran yang kita pancarkan ke alam semesta. Berakhirnya sebuah hubungan merupakan indikasi bahwa pada mulanya kami berada dalam resonansi yang sama. Namun seiring dengan kami yang terus tumbuh, dan kami pun memiliki kecepatan tumbuh yang berbeda, maka aka tercipta suatu jarak yang tentu saja akan menyebabkan adanya perbedaan vibrasi, sehingga kami tidak saling tarik-menarik lagi.

Bagi yang menyadari, sebenarnya kedua-duanya bisa mengupayakan untuk tetap ada di resonansi yang sama. Caranya dengan: Yang jalannya terlalu cepat, melambatlah sejenak. Yang jalannya terlalu lambat, larilah. Dua-duanya harus punya komitmen. Kalau yang berkomitmen Cuma satu pihak? Ya kagak bisa keulessssss….

Jadi kalau habis putus ya simple aja. Ohhhh… Kami sudah beda resonansi. Beda kelas. Kalau dipaksain udah ga enak lagi.

Berita bagusnya, Hukum Kelimpahan juga berlaku kok. There is enough pie for everyone. Ada kue yang cukup untuk setiap orang. Setiap orang ada pasangannya. Kalau yang masih sendirian yak karena belum ketemu saja. Ga perlu memaksakan diri untuk cari yang baru hanya karena kita sendiri.

Sendiri dan berpasangan itu punya potensi sama-sama membuat kita menderita maupun bahagia. Goalnya bukanlah berpasangan, melainkan berpasangan dengan seseorang yang memiliki resonansi sama.

Ketakutan, atau rasa tidak nyaman ketika menyandang gelar “single” indikasi bahwa kita tidak nyaman dengan diri kita sendiri. Bermasalah dengan diri sendiri. Lemah dan memerlukan orang lain untuk membuat kita bahagia. Ketergantungan pada orang lain. It's not okay.

Solusinya apa? Cintailah diri sendiri. Kembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik. . Jadilah sahabat bagi diri sendiri. Dan bila seseorang nyaman dengan diri sendiri, dia akan tetap berbahagia saat sendirian, dan akan membahagiakan saat ia berpasangan.

Dan itu yang tengah saya lakukan.

Semarang, 2 oktober 2014
Mahindra Suryaning Praja
Mahasiswa UDINUS jurusan Teknik Informatika